Antonio Conte Mengakui Timnya Bermain Buruk

Antonio Conte Mengakui Timnya Bermain Buruk

Antonio Conte Mengakui Timnya Bermain Buruk

Pil pahit harus dirasakan oleh Antonio Conte. Dalam kunjungannya ke ranah Turki pada laga penentuan sekaligus penutupan babak grup Liga Champions, langkah mereka berakhir di tangan tuan rumah Galatasaray, berkat gol semata wayang Wesley Sneijder. Juventus secara mengenaskan harus melupakan persaingan Liga Champions musim ini dan total hanya menyisakan Italia sebagai salah satu wakil Italia, dan kini mereka harus bertarung di kompetisi kelas dua bersama Napoli untuk menunjukkan kapasitas yang sebenarnya. Seharusnya pertandingan antar kedua tim digelar pada Selasa malam, namun pihak UEFA terpaksa menunda dan menggelar satu hari kemudian, setelah kondisi lapangan benar-benar tidak dapat dilanjutkan karena salju turun dan memenuhi permukaan lapangan di Turki. Sang pelatih, Antonio Conte sempat melayangkan protes kepada UEFA atas keputusan untuk tetap melanjutkan pertandingan keesokan harinya walau dalam kondisi lapangan yang belum sepenuhnya sempurna dan hal yang sama sebenarnya juga diungkapkan pelatih Galatasaray, Roberto Mancini.

Namun total Conte menuduh anak-anak asuhannya tampil buruk di sepanjang Liga Champions musim ini, yang hanya mengantongi satu kemenangan dari enam pertandingan. “Kami sebenarnya sudah meminta pertandingan untuk ditunda dan bertemu dengan delegasi UEFA sebelumnya, tetapi hal itu sama sekali tidak digubris. Roberto Mancini bahkan mengatakan hal ini bisa berbahaya bagi pemain dan saya pun sepakat dengannya. Saya mengatakan ‘Saya pikir demikian.’ Saya tidak menganggap bahasa Inggris saya seburuk itu kah?” Ungkap Conte. “Di masa istirahat, saya menegaskan kepada wasit bahwa kondisi ini jauh dari aman untuk bermain dalam situasi permukaan lapangan yang terlalu licin. Didier Drogba mengatakan bahwa kondisinya sama saja bagi masing-masing tim, namun saya tegaskan disini jelas berbeda, karena kami ingin memainkan sebuah sepakbola yang baik.

“Saya memuji keteguhan para pemain, sebagaimana mereka telah menyuguhkan sebuah perlawanan yang alot dalam situasi yang tidak menguntungkan, terlebih kondisi permukaan lapangan yang benar-benar kacau. “Saya mengatakan bahwa kesalahan kami adalah datang ke tempat ini dalam kondisi cuaca yang tidak bersahabat tetap menunjukkan sebuah totalitas dalam sebuah permainan di lapangan yang tidak mendukung. Dan mungkin hasil berbeda bila semua dalam keadaan yang baik-baik saja, tetapi inilah hidup dan keputusan sudah dibuat.” Kini Juventus hanya ingin fokus untuk menorehkan gelar ketiganya di kompetisi domestik secara beruntun, sekaligus melupakan hasil buruk di belakang. “Kini kami harus kembali berkonsentrasi di Serie A dan rasa kekecewaan ini akan kami pendam dalam-dalam. Karena segala sesuatu harus kami tunjukkan mulai saat ini. Kami memiliki dua pertandingan lagi sebelum libur Natal dan kemudian kami baru akan memikirkan Liga Europa.

“Kami akan mencoba kemampuan semaksimal yang kami miliki untuk kompetisi tersebut. Sebagaimana kami telah menunjuk persiapan yang baik di Liga Champions. Apakah kami menargetkan partai final? Setidaknya anda jauh lebih optimis dari saya. “Musim lalu kami mengawali musim dengan lambat dan tetap berada di puncak grup dengan modal tiga kemenangan. Kali ini kami sama sekali tidak mengaturnya dengan baik. “Sebaiknya kita jadikan kegagalan di Liga Champions sebagai suatu pelajaran penting. Kami boleh saja memenangkan gelar di Italia sebanyak dua kali berturut-turut dan kami tidak lolos kualifikasi pada tahun ini karena kesalahan kami, dan sudah sepatutnya untuk berikutnya tidak ada kesalahan lagi.”